Thursday, May 23, 2013

Ukur kebisingan



Mabok cerpen pesenan. Mabok skripsi. Eh malah ditambah mabok bajaj nih. :P

Mulai dari berita kuliah AMDAL (analisis dampak lingkungan) ada prakteknya. Waduh praktek apaan nih? Minta data proyek gedung-gedung tinggi sudah ada izin amdalnya? Atau mengorek air-air di jakarta apakah sudah sesuai dengan peraturan? Oh ternyata bukan itu, ternyata prakteknya adalah uji kebisingan. Alatnya mirip seperti mic karaoke, huooo. 

Nah setiap kelompok memutuskan masing-masing tempat atau alat apa yang mau diukur kebisingannya. Ada yang mengukur lampu merah arion. Ada juga shelter busway PGC. Macem-macem deh, nah dosen kita bilang belum pernah ada yang ukur kebisingan bajaj. Karena kelompok gue emang minim banget ide, ya udah kita embat abis aja tuh saran si ibu dosen. Kita bakal ukur kebisingan bajaj. 

Kelompok gue ada mba dwi, ichem, rizma dan hardi. Pas mau ukur kebisingan, eh alat dari jurusan batrenya abis. Yasudah kita minta batre dari jurusan, katanya ada. Eh pas kita minta, katanya batrenya ngga ada. ‘kemaren ada padahal, mungkin dimakan tikus. Kalian beli aja ya. Nih uangnya’ kata seorang karyawan dengan memberikan uang 50ribuan.

Akhirnya kami (gue, mba wie dan ichem) berjalan menuju arion, dengan pas terik yang menerpa. Sebelum sampai arion kami melihat circle k di dalam pom bensin, circle k itu seperti fatamorgana ditengah padang pasir. Kamipun masuk kedalam untuk membeli batre. Alhamdulillah batre yang kami inginkan ada di dalam, namun harganya 33ribu, sedangkan kita butuh 2 batre. Alhasil kami hanya membeli satu batre, kami coba disana dengan memasang satu batre baru dan astu batre lama. Ternyata alat ukurnya TIDAK BISA NYALA. Oke fiks kita harus beli satu batre lagi. Pakai duit sendiri, dengan harapan nanti akan di ganti uangnya. Setelah kita beli 2 batre baru, tantangan kedua adalah mencari bajaj.

Bajaj di depan arion sih banyak tapi kami takut nanti hasilnya bias karena banyak mobil lalu lalang, akhirnya kami memutuskan cari bajaj yang di depan kampus dan membawanya masuk kedalam kampus agar suaranya tidak bias. Pas di depan kampus, ada bajaj yang masuk ke dalam kampus. Kamipun segera merencanakan untuk menyetop bajaj tersebut nanti. 

Ichem, orang yang pandai banget tipu-tipu sama tukang-tukang pun memulai aksinya. “Bang, mau ngga kita sewa” tanya ichem. “kemana neng?” tanya abang bajaj. “ngga kemana-kemana bang, disini aja. Tapi nanti kita bayar kok” ichem mulai merayu dengan memasang mata centil. “oh iya boleh, buat data kuliah ya?” abangnya mulai luluh dengan godaan ichem. “iya bang”

Nah setelah abangnya setuju, ichem yang jaga abangnya. Gue sama mba wie yang mengukur kebisingan. Pertama di jarak 0 meter. Kami dapatkan data 80 dB. Kemudian kami mengukur di jarak 5 meter. Gue dan mba wie menggunakan langkah untuk menentukan meternya. “udah belum mba?” suara ichem dari ujung sana. “Iya udah” teriak kami berdua. Kemudian suara bajaj-pun menggema, dan kami dapat data 78 dB. Kemudian kami mengukur lagi dari jarak 10 meter. “udah belum mba?” tanya ichem lagi. “Udah chem” jawab kami lagi. Namun karena saat itu ada mobil lewat, datanya jadi tidak valid. Akhirnya kami minta ulang “chem, lagi lagi” teriak kami. akhirnya kamipun dapat data 75 dB. 

Setelah selesai ichem teriak lagi “mba udah?”. Kamipun menjawab “iya udah chem”. “mba beneran udah nih?” teriak ichem meyakinkan. “iya udah” jawab kami sambil menghitung langkah untuk mengukur dari jarak 15 meter. Kemudian kami mendengar ichem berteriak “woy, tru gue ditinggalin nih?” ichem sedang berlari kearah kami. Kami-pun shok. “Lah ichem! Belum selesai, kan masih ada yang jarak 15 meter” jawabku dan kemudian mba wie saking terkejutnya sampai menabrak aku dan akhirnya kamipun terjatuh berdua. Untung saja suasana di kampus sedang sepi. *malu*

Yaahh akhirnya data kita berakhir di 10 meter, di jarak 15 meter kami ditinggal oleh abang bajaj. Mungkin abang bajaj takut jatuh cinta kepada kami bertiga yang memang sangat kece. Atau mungkin abang bajaj itu teriangat istri di rumah.

“Lagian sih abangnya buru-buru banget chem” ucapku sebal. “Iya il, tadi tuh abangnya nanya. Mau ukur polusi ya neng? Trus gue jawab aja, ngga bang, ukur kebisingan kok. Trus abangnya bilang, kirain ukur polusi, saya takut ditangkep” kami langsung tertawa ngebayangin abnagnya ketakutan ditangkep. :D

No comments:

Post a Comment