Tuesday, May 21, 2013

Karena kamu



          Menatap kosong pemandangan indah laut lepas telah menjadi kebiasaanku selama setahun belakangan. Dikursi nyaman dan segala fasilitas yang seperti mimpi ini membawaku kememori itu. Memori tentang seorang pria yang menjadikanku putri di istana hatinya.

          “Rizky, masih inget aku? Aku minta kontak kamu dong” pesan singkat aku kirim melalui akun Facebooknya. Entah akun itu masih aktif atau tidak, aku hanya punya harapan disini. Semenjak mengirim pesan itu, hampir setiap jam aku mengecek dan mengecek. Hasilnya selalu nihil namun itu sama sekali tidak mematahkan semangatku. Hingga suatu pagi, hawa hangat menyelusup dari retina mataku. Pesan itu berbalas “Inget Win, nomer gue 083870******”. 

          Komunikasi terbaik telah terjalin semenjak aku memiliki nomer handphonenya. Komunikasi yang selalu aku harapkan berujung perjumpaan. Namun sayangnya, sampai saat ini hal itu masih hanya sekedar harapan.

          Deburan ombak laut lepas dihadapanku memuncakkan segala hasrat yang aku punya. Semua rindu, kenangan, dan memori indah itu datang kembali. Seperti dipengaruhi arus-arus ombak, tanganku meraih ponsel dan memanggil nomer yang sedari tadi aku pandangi.

          “hallo” suara bass khasnya menyelusup merdu ditelinggaku. “Hei, Rizky. Lagi sibuk ngga?” tanyaku berusaha menutupi degup jantung dan gemetarnya hati. “Lumayan nih, jam 7an gue baru pulang kerja. Kenapa?” jawabnya terdengar tidak terlalu fakus. “hmm mau undang kamu ketempat aku” jawabku seadanya. “Oh boleh, SMS aja tempatnya ya. Ntar pulang kerja gue kesana.” Jawabnya cepat, masih terdengar tidak fokus. “Oke deh” jawabku singkat dan kami segera mengakhiri pembicaraan.

          Aku masih terduduk dan menatap deburan ombak. Bayangan wajahnya saat dulu selalu memujiku terbayang kembali, terbayang dengan guratan terindah. Jam dinding bergerak dengan sangat lambat, aku menanti dengan setia datangnya sosok itu. Masih berdiri dengan perasaan yang sama, dan menunggunya.

          Sosok itu datang berbarengan dengan pengunjung yang lain, seberapa ramaipun aku tetap bisa mengenali sosok itu. “Hei Riz” sapaku dengan wajah sumringah. Ia hanya mengangkat sebelah tangannya dan tersenyum. Kami duduk ditempat terbaik di cafe ini, wajahnya terlihat lelah. Kami terdiam cukup lama, sama-sama tidak tahu harus memulai dari mana. “Lu kerja disini?” suara pertama yang keluar dari mulutnya. “Hmm iya Riz, warisan dari tante jauh” jawabku ragu. “Warisan? Lu boss disini?” tanyanya terdengar sangat terkejut. Aku hanya mengangguk pelan. “Wah udah sukses lu ya? Beda banget ama gue, ahhaha” tawa renyahnya terdengar lagi. Tawa yang selalu aku rindukan. “Aku tetep bukan apa-apa kok” jawabku singkat.

          Banyak menit berlalu dengan cerita dia yang penuh warna. Aku selalu saja senang mendengarkannya bercerita, setiap jeda pasti ada kejutannya. Sepanjang ia bercerita aku hanya tertawa kecil dan merespon seadanya. Rasanya seperti mimpi bisa bertemu dengannya lagi, setelah sekian lama. “kalo lu gimana?” akhir ceritanya dibubuhkan sebuah pertanyaan yang membuatku berpikir dua kali untuk menjawabnya. “Yah, semenjak lulus dan kita ngga ada kontak. Aku selalu kepikiran kamu” lisanku seperti berjalan sendiri, tanpa kendali.

          “Aku selalu teringat cara kamu memuji aku dan cara aku mengacuhkan kamu. Memori itu terlintas terus tanpa henti. Aku ngga pernah sanggup menghilangkannya. Seperti terbesit penyesalan, kenapa aku harus mengacuhkanmu dan tidak pernah memberi kamu kesempatan?” nafasku menderu, emosi memuncak. “Gue minta maaf Win, gue ngga maksud bikin lu ngerasa bersalah gitu” jawabnya pelan. “Aku yang salah. Harusnya aku kasih kamu kesempatan sebelum akhirnya kita terpisah dan tak ada komunikasi sama sekali” emosiku memuncak. Kami terdiam.

          “Eh tapi gue salut loh lu sekarang udah sukses, ngga kayak gue yang masih merintis buat sukses” suara bassnya membuyarkan keheningan. “Aku begini juga karena kamu, dan aku tetep ngeliat kamu sebagai lelaki yang selalu baik sama aku” jawabku lantang dan tegas. “Loh kok gitu?” wajahnya terlihat bingung. “Semenjak ngga ada kontak lagi sama kamu, aku ngerasa harus berjuang untuk melupakan kamu. Caranya dengan kerja dan kerja. Sampai akhirnya tante aku pergi ke surga dan memberikan cafe ini ke aku karena dia ngga punya anak. Ini semua karena kamu Riz” deru nafasku semakin cepat. Ia hanya tertunduk dan aku terus menatapnya tajam.

          “Sudah malam, gue antar lu pulang aja ya? Perempuan ngga baik pulang larut” Rizky membereskan barang-barangnya dan bergegas untuk mengantarkanku pulang, kebetulan cafe juga sudah sepi. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Deru mesin motor dan decit rem yang menghiasi suasana. Setelah sampai di depan rumah, kami tetap saja terdiam. Aku menatap wajahnya lamat-lamat. Ia hanya melirik sesekali dan kemudian pamit. “Gue pulang ya Win, makasi buat hari ini” ia meraih tanganku dan mengecupnya. Senyum tipisnya menggantungkan perasaanku yang tertinggal. Kini kami terpisah lagi, tetap dengan status yang sama: bukan siapa-siapa.

END


nb: cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, karakter, dan lokasi itu hanya kebetulan. Enjoy reading :)

2 comments:

  1. aduh endingnya kenapa ngegantung? padahal aku udah deg - deg'an aja bacanya ehehehe

    ReplyDelete
  2. setidaknya ada deg-degannya yaa. hehe :D

    ReplyDelete