Friday, June 28, 2019

PATAH (3)



           Sudah pukul sebelas malam dan aku masih terjaga di ruang tengah. Dekorasi sudah selesai, hasilnya sangat cantik untuk acara lamaran. Bang Indra memberi kesan merah muda dan biru sesuai warna kesukaan Tante Linda dan Om Satria. "Loh Dek, belum tidur?" suara Papa mengejutkan aku. "Iya, nungguin Papa" jawabku singkat. Papa duduk di sofa dan membuka jas serta dasinya. Aku mengambilkan Papa air dingin. "Kamu harusnya tidur cepat, besok kan ada acara. Nanti kamu ngantuk." Papa merebahkan badannya sambil mengamati hasil dekorasi. "Kalo nanti Tante Linda nikah, kita gimana?" aku membuka diskusi yang sejak pagi aku pendam. "Anak Papa kan sudah pada besar, sudah bisa mengurus diri sendiri. Keluarga kita akan baik-baik saja, Dek" Papa menatap aku. Aku mencoba memilih kata-kata yang tepat. "Semenjak Tante Linda tinggal disini, aku ngga ngerasa kesepian." aku berusaha menahan air mata. Papa terdiam dan mencoba mencari jawaban di langit-langit ruangan. "Tante Linda berhak bahagia, Dek. Papa ngga mungkin menahan Tante kamu itu disini. Tantemu itu harus menjalani kehidupan di level selanjutnya" Papa menarik nafas panjang.
           "Loh kok pada kumpul disini?" suara Tante Linda terdengar dari belakang. Papa tersenyum simpul. "Keponakanmu ini masih belum bisa terima sebentar lagi bakal di tinggal kamu, Lin" Papa melirikku. Aku mendengus kesal. Tante Linda duduk di sampungku dan memelukku hangat. "Maafkan Tante yang ngga bisa nemenin Rara lagi, tapi Tante janji kalo Tante akan selalu ada si saat Rara butuh" suara Tante Linda sangat menghangatkan hati. "Ajarin Rara masak kayak Tante" aku memeluk Tante Linda makin erat. Tante Linda mengiyakan kemauan aku, padahal Tante Linda tahu kalau aku goreng telur saja harus pakai jurus Captain Amerika.
          Malam itu akhirnya aku bisa merelakan Tante Linda untuk melanjutkan kehidupannya di level yang lebih tinggi. Nantinya mungkin aku akan sangat kerepotan, tapi aku janji untuk mandiri. "Kamu harus belajar masak yang bener, nanti kan kamu juga akan nikah. Jangan sampe setiap masak haris pakai baju dinasnya Captain Amerika, ahaha" Tante Linda meledek. Aku memasang muka kesal tapi tak kuasa untuk terus memeluknya.
          "Sudah yuk tidur, Papa udah ngantuk bangeet" Papa bergegas menuju kamarnya. Aku dan Tante Linda juga menuju kamar kami masing-masing. Besok harus menjadi hari yang paling bahagia untuk Tante Linda dan juga keluargaku. Aku jadi tidak sabar menunggu hari esok. 

Thursday, June 27, 2019

PATAH (2)



          Hari ini aku bolos kuliah, tidak ada semangat sama sekali untuk menuntut ilmu disaat pikiran sedang campur aduk. "Raa.. Kamu masih tidur?" suara Tante Linda dari depan kamarku. Penuh kekuatan aku mengarahkan badanku untuk bangun dan membuka pintu kamar. Aku lihat Tante Linda masih menggunakan daster. "Kamu bukannya ada kuliah pagi, Ra?" Tante Linda mengusap rambutku yang sudah sangat berantakan. Aku hanya menggeleng malas. Energi dalam tubuhku seolah pergi dari badan. "Ya sudah sarapan yuk" Tante Linda merangkulku dan mengajakku ke meja makan. Meja makan sudah tersedia nasi goreng dan buah anggur kesukaan Papa. Aku duduk dan segera makan, aroma masakan Tante Linda seolah menghipnotis untuk segera makan.
          "Besok Om Satria dateng jam berapa?" aku mencoba basa-basi. Muka Tante Linda terlihat bersalah dan aku jadi tidak tega. "Sekitar jam 2 siang" jawab Tante Linda dengan senyum yang agak di paksakan. Aku melanjutkan makan dengan pikiran yang campur aduk. Setahun setelah Mama meninggal, semua keperluan rumah ini diambil alih oleh Tante Linda. Tante Linda adalah adik Papa paling kecil. Tante Linda satu-satunya adik Papa yang belum menikah. Keberadaan Tante Linda di rumah ini sangat membantu aku, Bang Indra dan Papa untuk bengkit dan tidak terpuruk atas kepergian Mama. Lantas jika sekarang Tante Linda mau menikah, bagaimana keadaan keluarga aku?
          "Kapan acara pernikahanannya?" tanyaku lagi. Tante Linda memandangiku lama. "Sekitar 3 bulan lagi" jawabnya singkat. Kami kembali pada kemelut pikiran kami masing-masing. "Tan, aku udah telpon Bu Mimi untuk makanan besok beliau siap" Bang Indra segera duduk dan mengambil piring untuk sarapan. Tante Linda tersenyum dan berterima kasih. "Ra, lu bolos kuliah kan? Ntar bantuin gue dekor ruang depan ya" Bang Indra masih asik dengan nasi gorengnya walau mulutnya terus saja bicara untuk acara besok. Aku heran kenapa Bang Indra sepertinya tidak merasa kehilangan seperti aku? Bang Indra malah terlihat amat bersemangat. "Indra, dekor sama Tante aja. Rara biar kuliah kasian masih semester awal udah di ajarin bolos" Tante Linda menatap Bang Indra sungguh-sungguh. "Ngga apa kok, Tan. Aku emang males kuliah hari ini" jawabku singkat tanpa menatap Tante Linda.
          Selesai sarapan aku dan Bang Indra sibuk mendekorasi ruang depan untuk acara lamaran Tante Linda. "Abang kok keliatan semangat sih?" tanyaku sambil menggunting kertas-kertas sesuai arahan Bang Indra. "Ya masa mau bete kayak lu? Lagian Tante Linda itu udah banyak berjasa buat keluarga kita, masa kita cuma suruh bantuin gini aja ngga mau sih? Papa nih yang kasih mandat langsung. Lu tau sendiri Papa kalo kerja pagi sampe malem, mana ada waktu buat beginian!" Bang Indra menjelaskan panjang lebar. Aku setuju sih, tapi ini kan artinya Tante Linda akan pergi dari rumah ini. Aku masih belum bisa berpikir jernih apa yang akan terjadi dengan rumah ini tanpa adanya Tante Linda? "Ra, gunting gitu doang aja lama banget lu. Untung lu ngga masuk jurusan seni kayak gue, bisa kena hukum terus deh sama dosen" Bang Indra meledek aku yang masih menggunting satu pola, sedangkan Bang Indra sudah selesai lima pola. Akhirnya aku bisa tertawa dan sejenak melupakan pikiran-pikiran jenuh. 

Wednesday, June 19, 2019

PATAH (1)




         "Gue capek ngerjain tugas muluuu" siang itu aku mengeluh pada sesosok perempuan mungil berkacamata yang asik menulis laporan. "Menurut gue ini ngga banyak kok, kita kerjain sekitar dua jam juga selesai" perempuan mungil itu masih asik menulis laporannya. "Gilaa yaa, kalo di FTV kuliah tuh cuma jalan-jalan ajaaa.. Ini tugas terus ngga ada habisnyaa" aku masih mengeluh dan menaruh wajahku pada kertas-kertas laporan yang tak kunjung selesai. "Kebanyakan nonton FTV sih lu, Ra" perempuan mungil itu tak juga tertarik untuk istirahat, ia tetap asik menulis laporan.
          Aku Kejora tapi biasa di panggil Rara. Kuliahku baru semester satu tapi tugasnya seperti orang sudah semester lima! Wanita mungil yang rajin itu sahabat baruku, namanya Ghea. "Gue udah selesai nih, lu mau ngerjain apa langsung balik aja?" Ghea mengganggu istirahatku yang tenang. Aku hanya memberi isyarat untuk langsung pulang, aku sama sekali tidak minat untuk mengerjakan laporan yang membosankan itu. Ghea merapikan kertas dan buku-bukunya, aku-pun mengekor.
          Panas terik kota Jakarta memang tidak ada duanya, rasanya ingin segera sampai rumah dan minum es teh lemon buatan tante Linda. "Ra, duluan yaa" Ghea keluar dari Bus Transjakarta sambil melambaikan tangan. "Hati-hati, Ghe" ucapku. Teras rumah sudah ramai dengan teman-teman Bang Indra. Aku mengucap salam yang segera di jawab kompak oleh teman-teman Bang Indra. "Baru pulang, Ra?" Bang Rully berbasa-basi. Bang Rully ini yang paling sering main kerumah dan yang paling humoris diantara yang lain. "Iya, Bang. Aku masuk dulu ya" jawabku sopan.
          Sampai kamar aku segera berganti pakaian kemudian mencari Tante Linda. "Bang, Tante Linda mana?" tanyaku pada Bang Indra yang sedang menyeduh kopi. "Kerja kayaknya, tadi keluar pakai baju formal gitu" jawab Bang Indra sambil berlalu menuju teras. Aku menghela nafas panjang, gagal sudah menikmati es teh lemon buatan Tante Linda.
           "Raa.. Rara.. Lagi ngapain dikamar?" suara Bang Indra menganggu tidur siangku. Bang Indra segera masuk ke dalam kamarku tanpa minta izin terlebih dahulu. "Kenapa sih, Bang?" tanyaku yang masih menempel dengan kasur. "Kata Papa, tante Linda mau dilamar" informasi dari Bang Indra membuatku segera terduduk. Aku membuka mataku lebar-lebar untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi. "Seriusan, Bang?" tanyaku masih dengan usaha membuka mata lebar-lebar. "Iya tadi Papa telpo, lu sih tidur ajaa. Pokoknya kita siap-siap buat sabtu besok lamaran Tante Linda. Lu jangan kabur-kaburan ya" Bang Indra segera keluar kamar meninggalkan aku yang masih belum sadar bahwa ini nyata, bukan mimpi.