Tuesday, March 20, 2012

Kenangan Pulau Rambut

Berawal dari malam yang kelam, berkelahi dengan pacar hanya karena masalah sepele. Tertawalah jika kalian mau. Aku hanya memintanya naik angkutan yang lebih banyak ketimbang dia harus menunggunya 1jam lagi, aku begitu bukan tanpa alasan. Saat itu dia sedang berpuasa dan jam sudah menunjukkan pukul 17.30 wib. Dia tetap ingin menunggu angkutan yang jarang itu dan membantah dengan nada yang tinggi, spontan jantungku berhenti berdetak dan raut wajahnya pun sangar. Air mata bergejolak ingin keluar, aku membendungnya dan segera pergi meninggalkannya tanpa pamit. Dia sadar dengan keadaanku saat itu, dia berteriak “iya aku ga marah, kamu jangan marah dong” aku tak menjawab dan berlalu dengan cepat. Tanpa menengok aku sudah dapat melihat ekspresi mukanya yang gundah, dia lelaki yang tak berdaya jika ada wanita yang menangis, terlebih semua itu bersumber darinya.

Sepanjang perjalanan dia terdiam berusaha tenang namun degup jantung tak dapat diperlambat. Akhirnya dia kalah, secepat kilat dia mengambil handphonenya, menelfon ? ah! Dia tak cukup nyali berbicara dengan wanita yang menangis sekalipun lewat handphone. Sms ? yaa .. hanya itu yang dapat ia lakukan. “aku ngerasa ga enak bgt ni, kamu jangan sedih, aku ga marah kok” sms segera ia kirim dan aku hanya terdiam melihat sms itu. Aku masih tertarik untuk menangis ketimbang membalas sms itu. Selang beberapa menit handphoneku berbunyi kembali. Hmm masih sms darinya “kamu jangan sedih, aku jaddi ikut sedih ni, maaf kalo tadi nada suara aku tinggi, aku emang gitu kalo lagi banyak pikiran” air mataku sudah surut dan aku mulai lunak untuk membalas sms darinya. Namun nasib berkata lain, sms yang aku kirim selalu gagal. Aku mulai panik dan terus berusaha tanpa ada hasil. Sampai kemudian handphone kembali berbunyi. Masih berupa sms “jangan nangis” aku mulai iba. Mengutuk operator dan handphoneku sendiri. Entah dapat ilham darimana aku mencoba mengecek pulsa. Damn!! Pulsaku habis! Gundah yang aku dapatkan namun aku tak mampu berbuat apapun. Masih tersisa pulsa internet sedikit dan aku langsung mengirim pesan ke facebook kakakku untuk meminta pulsa .. ah! Memang  nasib sedang tak berpihak kepadaku, sampai tengah malam aku tunggu namun pulsa tak juga datang. Aku hanya berdoa agar dia tidak dirasuki rasa gelisah yang teramat dalam. Handphone kembali bordering, sms yang tetap berasal dari sumber yang sama,

cuaca mala mini layaknya hati kita berdua, dingin dan menangis, tapi semoga dengan deraian air hujan dapat menghapus sebagian atau seluruh rasa sakit dan sedih di hati kita

Aku terpaku, setelah semua peralatan untuk pergi ke pulau rambut selesai aku segera terlelap. Aku khawatir tidak akan tidur jika terus memikirkan keadaan ini. Sampai saat pagi menjelang, pulsa yang ku tunggu tak juga datang, aku terdiam dan handphone berdering. Sms dengan sumber yang tak berubah,

malam yang gelap dan dingin perlahan tergantikan oleh terang dan hangatnya mentari pagi, seperti halnya saat kau datang menerangi dan menghangatkan hatiku, selamat pagi..

Aku kembali terpaku, betapa orang itu tidak tenang sejak kemarin. Aku ingin mengatakan kepadanya bahwa aku baik-baik saja, namun aku tak mampu berbuat apa-apa. Sms terus berdatangan tetap dari sumber yang sama. Menanyakan keadaan, kelengkapan dan sebagainya, namun aku hanya dapat membacanya.

Setelah sampai dikampus, sosok itu terlihat sangat murung kemudian segera menghampiriku dan mengajakku sarapan. Aku mengangguk dan tak kuasa untuk menjelaskan semuanya “maaf, pulsa aku habis” wajahnya yang murung segera berubah membaik dan dapat melemparkan senyumnya yang khas, senyum yang dapat membuat aku bahagia tanpa alasan, ah! Bisa di bilang aku sudah gila! Kemudian aku sarapan dengan lahap dan dia mengawasiku agar menghabiskan makanan tanpa sisa. Selesai aku sarapan, hujan mengguyur kampus kami dan membuat semua yang berada di sana termenung, maklum kami harus menunggu hujan berhenti baru bisa berangkat. Jam terus berputar dan mataharipun semakin tinggi, hujan perlahan menghilang. Perjalanan segera dimulai dengan diawali doa bersama. Semua berebut mencari posisi nyaman di dalam tronton, bagiku sama saja, aku tak ambil pusing karena aku berniat tidur nantinya. Setelah semuanya duduk dan beberapa lelaki berdiri, aku menjalankan niatku, mata segera terpejam. Dalam diam dia mengawasiku, dia heran ada wanita seperti aku yang mampu tidur tenang padahal keadaan sangat ramai, dan dia tersenyum.

Perjalanan di dalam tronton cukup memakan waktu banyak, namun aku setia dengan tidurku dan dia juga setia menatap wajahku yang sedang terlelap. Setelah sampai, kami segera turun dan merapihkan bawaan kami sambil menunggu komando untuk jalan menuju kapal. Dia menghampiriku dan memulai kekonyolan seperti biasa, semua menatap kami dengan iri hati. Setelah semua siap, kami pun bergegas menuju kapal, disampingku dia berbisik “duduknya deket aku ya” aku hanya mengangguk yakin. Dan di dalam kapal kami menikmati pemandangan laut yang begitu indah, namun hanya sebentar saja kami sudah sampai. Setelah sampai pulau rambut kami semua duduk rapi mendengarkan pengarahan dan peraturan selama 3 hari disana, kemudian kami makan siang dengan bekal masing-masing.

Selama 3 hari aku sangat menikmati pemandangan di sana, banyak sekali burung besar berterbangan. Pemandangan yang tak pernah aku lihat di Jakarta, yang paling menakjubkan adalah aku dapat melihat elang laut, yaa elang yang besar, yang biasa kita lihat di ragunan dan di dalam sangkar ternyata aku bisa melihatnya terbang bebas dengan bahagia disana, hah amboi sekali.

Sebuah perjalanan panjang yang tak akan pernah aku lupakan, semoga burung-burung itu tetap terbang bebas disana tanpa ada pengganggu.



nb: cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, karakter, dan lokasi itu hanya kebetulan. Enjoy reading :)

No comments:

Post a Comment