Friday, November 18, 2011

waktu

Selembut belaian badai saat kau palingkan arah. Setiap insan pasti ingin merasakan cinta yang sempurna. Namun tanah yang diinjak dan udara yang dihisap seolah tidak merestui adanya jalalinan kasih yang abadi.

Senja perlahan mengintip dari balik bukit yang tinggi. Ayam di setiap penjuru paduan suara membangunkan manusia yang masih di alam mimpi. Aku terbangun dan segera bergegas untuk menyiapkan sarapan pagi. Ku tinggalkan suamiku yang masih mendengkur keras. Langkah kakiku terhenti begitu melihat keluar jendela kamarku. “Paman Obe rajin sekali” pikirku dan segera melanjutkan niatku untuk masak.

“Pagi  sayang” ucap Dedy seraya memelukku dari belakang. Badanku bergerak melepasnya, entah mengapa. Seluruh saraf yang ada ditubuhku seperti menolak perlakuan mesra suamiku. Aku menatapnya merasa bersalah, namun Dedy hanya tersenyum tipis dan menuju meja makan. Pernikahan ini sudah berjalan 1 tahun, namun pernyataan ibuku yang bilang “Nanti juga cinta kalau sudah hidup bersama” itu sama sekali tidak terbukti. Hatiku masih tertinggal ditaman depan rumah. Hatiku yang utuh dan suci akan cinta sejati sudah tertanam dan terus berkembang bahkan sampai saat taman itu sudah berpenghuni.

Terik matahari membantuku mengeringkan pakaian basah yang menggantung bebas di depan rumah. Sebagai ibu rumah tangga aku dituntut berbagai macam tugas yang belum pernah ku lakukan sebelum memiliki suami. Umurku masih cukup muda, namun ibu terlalu khawatir dengan cemoohan tetangga tentang perawan tua. Dunia seolah berputar ke masa-masa aku kuliah.

***

Aku selalu bangun lebih pagi dari nyanyian burung kutilang yang terbang bebas di pepohonan taman sejoli. Kusempatkan diri menggunakan kaos dan celana training untuk berjoging ria dengan telinga tersumbat headset. Kesehatan bukanlah alasanku untuk melakukan aktivitas ini setiap harinya. Namun ada alasan lain, hanya aku, dia dan Tuhan yang tahu.

Setiap sore adalah indah. Do re mi fa sol la si do dendangku riang dalam hati. Menutupi degup jantung yang lebih heboh dari gonggongan anjing. Setiap sore, duduk menunggu sesuatu yang tak pernah datang menghampiri. Hanya sorot mata dan itu sangat indah. Hanya senyum simpul, sederhana namun itu membuat hatiku berdesir hebat. Anak ABG yang terjebak dalam cnta sesaat, eh. Aku sudah kuliah. Berarti aku sudah bukan ABG. Selalu mengelak karena malu mengaku cinta yang dangkal.

***

Ketika hati dan kenyataan dunia berbeda keadaannya, ini selalu terdeskripsikan dengan masalah. Apakah orang-orang  yang membuatku seperti ini mau bertanggung jawab? Apakah ada yang peduli ketika ucapan-ucapan mereka dulu itu tidak nyata? Berbicara pada siapa sih aku? Tembok!

“aku pulang” suara merdu terdengar dari arah pintu. Aku segera menyambutnya dengan senyuman. Senyuman palsu lebih tepatnya. Dedy tampak sedikit murung. Tetap dengan lembut ia memintaku melayaninya. Membuatkan minuman hangat, makanan yang lezat dan air hangat untuknya mandi. Ku laksanakan semuanya karena kewajiban. Setelah badannya sudh cukup segar ia berbaring di sofa depan TV. Aku menghampirinya dengan membawa beberapa makanan ringan.

“Kamu lelah sekali ya?” tanyaku ku buat sehalus mungkin. Dedy hanya mengangguk dan menggonta-ganti channel TV tanpa henti.

“Ada masalah apa di kantor?” tanyaku lagi. Dedy menatapku lekat-lekat. Ia merangkulku tanpa mampu aku tolak. Tubuhnya wangi sekali, padahal aku tahu dia tidak memakai parfum selesai mandi tadi.

“Biasalah sayang, namanya kerjaan pasti ada masa sulitnya. Kamu engga usah ikut mikir ya. Pasti kamu udah capek seharian ngurusin rumah” katanya lembut. Entah mengapa aku nyaman di pelukkannya. Sepertinya aku terhipnotis oleh aroma tubuhnya. Ah, tidak. Tidak mungkin aku jatuh hati padanya hanya karena ini.

“Yang penting dapur tetap ngebul kan?” kataku sambil melepas pelukkannya.  

“haha iya lah sayang, kamu ini ada-ada aja sih” ucapnya penuh rasa sayang sambil mengusap rambutku. Apa sih ini orang? Cinta banget ya sama aku? Masa sih dia engga bisa melihat mataku yang kosong ketika melihat mukanya. Bahkan bilang sayang aja aku engga pernah. Tapi dia sehari bisa sepuluh kali. Heran!

***

Gunung merapi kapan meletus? Kenapa bukan hari ini saja? Saat duniaku hancur berkeping-keping. Saat sorotan mata dan senyum simpul itu ternyata salah alamat. Bukan bukan, bukan salah alamat. Namun perbedaan zaman, ah apalah bahasa yang baik? Singkatnya, sorotan mata itu berasal dari seorang bapak dari 1 anak balita. Apa aku masih di bumi?

“kakak, tolong jangan selalu melihat bapak seperti itu” kata seorang anak kecil disampingku.

“bapak? Siapa dek?” tanyaku masih lugu.

“itu yang lagi memotong pohon mawar di samping tulisan taman sejoli” ucap anak itu 
lantan. Aku terkejut. Mungkin kalau jantung tidak terikat dengan banyak pembuluh darah, dia sudah loncat ke luar angkasa.

“oh iya, maaf ya adik” ucapku sedikit serak.

“Bapak Obe” teriak anak itu sambil  berlari. Aku beranikan diri mengikuti anak itu. Menghampirinya. Seseorang yang memiliki sorot mata dan senyum simpul yang memenuhi relung hati ini. Aku melemparkan senyum yang berbeda. Sangat berbeda.

“Maaf mba, anak saya bandel ya? Maklum ibunya sudah tidak ada.” Ucapnya lembut. Paman Obe pewarna hari-hariku selama ini. Mendengar ceritaku tentang paman Obe, mama segera menikahkanku dengan Dedy.

Mentari pagi seolah berwarna hitam kelam. Biaskan makna yang terpendam. 


***

“Pagi sayang, kok kamu tumben bangun siang?” sapa Dedy disampingku dengan pakaian serba rapi.

“Jam berapa ini?” aku terkejut.

“jam 8, sarapan udah aku siapin kok. Sepertinya kamu kecapekan. Kamu boleh istirahat lagi kok, tapi sarapan dulu ya” dedy tetap lembut. Aku melemparkan senyum simpul. Badanku masih sangat lemas. Entah mengapa.

“Aku berangkat ya sayang. Makasi buat semalam” bisiknya halus.

Semalam? Mimpi masa lalu itu membuatku lupa segalanya. Entahlah. Ku berjalan menuju dapur dan lagi-lagi langkahku tertahan. Menengok ke arah taman depan rumah. Paman Obe, wajahnya sudah mulai keriput. Hidupnya sangat sulit. Mengurusi anak sendirian. Desiran hati yang dulu ku rasakan perlahan hilang. Sampai saat ini, aku hanya menganggapnya sebagai paman Obe tukang kebun taman sejoli.

Sebulan setelah ke kalutan Dedy, hari ini mungkin adalah hari yang sejak dulu ia nantikan. Kuberikan tanganku yang akan membuat cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan. Pertemuan dua yang menjadi satu. Aku positif. Dan Dedy semakin memperlakukan aku layaknya putri. Tenyata mama benar, cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Hanya saja waktu itu tidak seperti kereta yang jalannya cepat tanpa hambatan.

 

No comments:

Post a Comment