Tuesday, January 17, 2012

DELIA NURBAYA



Liburan kala menjadi mahasiswa itu sangat membosankan. Libur sampai sebulan, dua bulan bahkan sampai lumutan. Sepertinya nasib seperti ini hanya terjangkit pada mahasiswi  pengangguran dan miskin, Delia.

***

“Delia.. kamu ini kerjanya makan tidur aja. Ayo bantu ibu” seru ibu kepada Delia anak putri satu-satunya. Delia yang sedang malas-malasan malah semakin mesra memeluk gulingnya. Liburan seperti ini bukan hal menyenangkan bagi Delia, ia tidak bisa keluar rumah seperti layaknya mahasiswi lainnya. Delia hanya berada dirumah dan membantu ibunya berjualan ketoprak.

Sebagai seorang anak berumur 20 tahun, Delia masih saja merasa tabu untuk memperkenalkan pacar kepada orang tuanya. Hampir setiap hari ibunya menanyakan pasangan namun ia hanya menggeleng. Terkadang ayah Delia berminat untuk menjodohkan Delia dengan anak temannya, untuk hal ini Delia pasti segera menolak.

“Delia, ada tamu nih.. kamu jangan tidur aja” kata ibu saat jarum jam mengarah ke angka 10. Dengan separuh tenaga Delia bangun dan membantu ibunya.
“Siapa sih bu? Masih pagi juga” kata Delia sambil mengucek-ucek matanya.
“Kamu ini, sudah jam 10 masih di bilang pagi” jawab ibu sambil melotot ke arah Delia. Delia yang takut segera membantu ibunya sambil manyun. Di ruang tamu suara ayah dan tamunya ramai sekali, sampai terdengar ke dapur. Namun, suara sekencang apapun juga tak menarik perhatian Delia untuk mendengar percakapan ayahnya.

Selesai menyiapkan makanan kecil dan minum untuk tamu, Delia dengan sigap mengantarnya ke ruang tamu. Betapa terkejutnya dia melihat tamu ayahnya datang dengan anaknya, dari penampilannya seperti anak seumuran Delia. Hati Delia ketar-ketir memikirkan kemungkinan yang ada, apakah anak ini akan di jodohkan dengan Delia? Jantung Delia hampir copot memikirkan hal itu.


Di dapur Delia berusaha menguping pembicaraan ayahnya namun otaknya tidak fokus. Hanya beberapa saja perkataan yang dia dengar.
“Menurut bapak bagaimana?” begitu yang tertangkap di telinga Delia. Suaranya berasal dari teman ayahnya.
“Wah, sebenernya saya engga begitu paham pak” jawab ayah Delia.
“Kalau bapak saya mah tergantung anaknya saja pak” kali ini suara ibu Delia yang terdengar. Hati delia semakin ketar-ketir.
“Haha iya pak, saya engga paham. Biasanya saya tanya anak saya dulu, kalau mau ya sudah saya kasih” suara ayah Delia sekarang terdengar jelas.
Delia hampir saja ingin lari. Dia tidak bisa membayangkan apa yang harus dikatakan pada ayah dan ibunya. Apa juga yang akan dia katakan pada pacarnya. Perasaan Delia semakin campur aduk, beruntung dia bisa mengendalikan perasaannya sehingga tidak meneteskan air mata.
“Delia.. coba kesini nak” panggil ibu Delia. Delia yang terkejut segera berdiri namun mematung. Dia bingung harus bagaimana. Panggilan ibunya sampai berulang dua kali dan Delia segera menuju ruang tamu.
“Kamu kuliahnya udah banyak tugas pakai laptop Del?” tanya ayahnya. Delia hanya mengangguk.
“Tuh laptop temen ayah baru sebulan di pake, kalo kamu mau nanti ayah beli” kata ibu Delia.

***

Terkadang di zaman modern seperti ini masih saja pemikiran-pemikiran zaman siti nurbaya menghantui. Beruntungnya hanya ada di pikiran, tidak sampai menjadi kenyataan.

END


nb: cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, karakter, dan lokasi itu hanya kebetulan. Enjoy reading :)

No comments:

Post a Comment