Thursday, January 17, 2013

LELAH

Lelah sekali rasanya melihat seseorang yang kita cinta memiliki kelakuan yang jauh dari harapan kita. Lelah.

*** 

            “Aku ngga suka lihat kamu pulang malam, minum-minuman. Kamu itu mau jadi apa?” pagi itu lagi dan lagi Sarah marah besar pada pacarnya, Zain. “Aku kinta maaf, semalem aku dipaksa sama temen-temen” jawab Zain sebisanya. Sarah tutup mulut, lama yang terdengar hanya deru nafas kencang. “Sarah, aku janji ngga akan ngulangin ini lagi” Zain mencoba meyakinkan wanita didepannya. Sarah tetap berdiri melihat Zain dengan pandangan kecewa. “Aku ngga butuh janji kamu yang terbawa angin Zain” secepat kilat Sarah mengambil langkah seribu, tidak peduli kekasih yang ia tinggalkan hanya mematung dan merasakan sakit yang teramat dalam di dasar hatinya.

            Seminggu mereka tidak saling berkomunikasi, setiap bertemu keduanya seperti tidak saling mengenal. “Sarah” panggil seorang perempuan mungil dengan dandanan ala artis. Yang dipanggil hanya menggerakkan kepalanya sedikit. “Lu lagi ada masalah sama temen gue?” tanya wanita mungil disampingnya. Sarah menghela nafas panjang “Bukan urusan lu” ucapnya sambil terus berlalu, tidak peduli yang ditinggalkan merasa dilecehkan. “Jelas ini urusan gue, Zain itu sohib gue” ucap wanita mungil itu sedikit berteriak. Sarah tetap berlalu seolah tidak ada yang mengajaknya berbincang. Masalah seperti ini memang bukan sekali dua kali untuk pasangan ini, namun yang Sarah benci adalah ke-sok tahuan teman-teman Zain. Mereka selalu saja ikut campur urusan pribadi Zain, berulang kali Sarah terang-terangan bilang kalau dia terganggu tapi tetap saja mereka sok tahu dan ingin tahu.

            Siang ini Sarah berniat menemui Zain untuk mengakhiri semuanya, Sarah sudah muak dan lelah dengan segala kelakuan pacarnya itu. Ketika sosok yang ia cari terlihat disudut kantin Sarah justru ragu lagi dan meninggalkan sosok itu. Sebagaimanapun bencinya ia terhadap Zain tetap saja Zain adalah orang yang mampu membuatnya bahagia, bahagia yang hakiki. Satu langkah lagi Sarah akan keluar dari kantin, satu tangan menarik ia untuk tetap. “Zain?” ucap Sarah kaku. Zain hanya tersenyum manis “apa kabar? Kamu kurusan, makan dulu yuk” tanpa menunggu jawaban dari Sarah ia segera menarik tangan Sarah dan menuntunnya ke kursinya.

            “Aku tadi memang ingin ketemu kamu” tiba-tiba Sarah memulai pembicaraan. Lelaki didepannya hanya diam, memperhatikan setiap detail wajah wanitanya. Sungguh ia sangat rindu pada wanita dihadapannya, wanita yang mampu membuat ia melupakan sejenak masalah dalam hidupnya. “Aku mau kita putus” ucap Sarah pelan namun terdengar jelas di telinga Zain. Pandangan Zain tiba-tiba buyar, tubuhnya seperti tidak memiliki energi lagi. “Tolong Sarah, aku kan sudah janji ngga akan melakukan ini lagi.” Frustasi, jawaban Zain sangat terdengar frustasi. Sekian banyak mereka marahan, baru kali ini Sarah mengucapkan kata itu. Kata yang sama sekali tidak diharapkannya.

            Lama waktu berputar di sudut kantin itu, mereka hanya terdiam. Terdengar deru nafas. Terdengar isakan. Terdengar kata-kata kekesalan. Mereka tetap diam seribu bahasa. Tidak ada yang berani memulai atau melanjutkan percakapan. “Kamu pasti tahu ini akan sangat berat buat aku” ucapan pelan dan menyesakkan dari Zain, Sarah mengangkat muka dan menatap wajah Zain yang penuh dengan peluh. “Maaf,  tapi aku sudah lelah” dengan isakan dan derai air mata Sarah mengakhiri percakapan mereka. Sarah pergi meninggalkan Zain yang lagi-lagi menyisakan luka.

            “Denger-denger sohib kita udah bebas nih dari aturan-aturan ngga penting dari cewek sok ratu” wanita mungil itu mengucapkan kalimat-kalimat dengan pandangan mengejek. “Maaf, gue ngga ada urusan sama lu” Sarah berusaha tenang menghadapi wanita mungil didepannya. “Wow, siapa lu berani banget ngelecehin gue? Dan sohib gue.” Wanita mungil itu semakin mengejek Sarah. “Gue udah bilang kalau gue ngga ada urusan sama lu” jawab Sarah mulai ketus dan mencoba meninggalkan wanita mungil didepannya. “Weits, jangan kabur dulu lu. Takut dihina? Kalo takut dihina jangan hidup lu” wanita itu menarik tangan Sarah, badannya yang mungil ternyata memiliki kekuatan yang cukup besar untuk menarik Sarah. Sarah terdiam. “Asal lu tau ya Ratu sejagat, lu sama Zain itu beda kasta!” ucap wanita mungil itu dengan ketus. Sarah tetap diam. “Minum sama pulang malem sih hal biasa coy buat kita, lu aja yang katro” wanita itu semakin semangat mencaci maki Sarah. “Jujur gue seneng lu bisa putus sama Zain” kini wanita mungil itu meninggalkan Sarah yang terisak pelan. Wanita itu sudah sangat puas melihat Sarah kesakitan dengan ucapan-ucapan kasarnya.

            “Sarah? Kamu kenapa?” diantara isak tangis Sarah, Zain datang dan  mengusap air mata mantannya. “Pergi Zain, aku ngga butuh kamu” jawab Sarah kasar. “Kamu mungkin ngga butuh aku, tapi aku sangat butuh kamu. Aku sayang sama kamu, lebih dari badanku sendiri. Kamu capek sama kelakuan aku? Aku ngga pernah capek nurutin semua kelakuan manja kamu. Kamu marah sama temen aku yang sok tahu? Aku ngga pernah marah sama temen kamu yang selalu merebut waktu kamu sama aku. Kamu marah sama aku yang selalu ingkar janji? Aku ngga pernah capek dengerin impian-impian kamu yang kadang membuat aku takut akan kemampuan untuk mengabulkannya” Zain berbicara lebih kepada dirinya sendiri, menguatkan hati bahwa wanita yang ia cinta ternyata sudah meninggalkannya. “Aku sayang kamu sarah. Ketika aku sayang, aku akan menerima kamu sepaket dengan segala kekurangan yang ada dalam diri kamu. Aku sayang kamu.” Zain hampir menangis, kemudian dia pergi. Kali ini sarah yang tertinggal dan menemukan luka.

*** 

Lelah bukan sesuatu yang tersimpan ketika kita mencintai seseorang, karena cinta tidak mengenal lelah. 


nb: cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, karakter, dan lokasi itu hanya kebetulan. Enjoy reading :)

No comments:

Post a Comment