Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Friday, January 14, 2022

Tempat

 


Siang saat cuaca tak menentu akhirnya aku ke tempat ini.  Tempat yang sama,  kursi yang sama,  namun kali ini aku sendiri. Aku duduk dan mengamati sekitar yang tidak terlalu ramai. Biasanya kita duduk disini karena memang nyaman dan pandangan kita luas. 


"Insight dia kurang bagus, mending pake si merah" suara lelaki berbadan besar di seberang terdengar. Sepertinya mereka sedang rapat untuk memilih Brand Ambassador produk.  Terlihat dua wanita berambut  pendek sibuk dengan laptopnya masing-masing. Sedangkan lelaki berbadan besar terus berbicara tentang insight, engagement dan sebagainya kepada lelaki berambut panjang disebelahnya. 


Di sampingnya terlihat sepasang kekasih sedang asik mengerjakan sesuatu.  Aku tidak tahu apa tapi mereka sangat semangat. Mata mereka berbinar dan fokus pada laptop hitam dihadapannya. 


Ternyata tempat ini memang tempat pasangan-pasangan duduk santai menghabiskan waktu bersama. Terlihat kursi di luar juga ditempati sepasang kekasih. Sang lelaki asik merokok dan sang wanitanya terlihat seperti sedang mengerjakan tugas.  Kursi luar sebenarnya lebih asik,  namun dengan cuaca yang tidak menentu pastinya bikin ketar-ketir takut tiba-tiba hujan datang.


#30haribercerita #30hbc22 @30haribercerita #30hbc2208 #30hbc22tempat


Sunday, January 9, 2022

Utuh


 

Terakhir kali aku kesini sama Abang. Saat itu semuanya baik-baik saja. Aku dan Abang adalah kakak beradik yang sangat bahagia waktu itu. Abang mentraktir aku karena habis jadian dengan pujaan hati.  


Hari ini kita kembali lagi kesini. Sayangnya kita berdua sama sekali tidak bahagia. Kita harus memutuskan untuk terpisah.  Siapa yang akan ikut Ibu dan siapa yang akan ikut Ayah. Jujur aku sama sekali tidak tahu harus memilih siapa.  Aku hanya ingin keluarga kita tetap utuh,  namun itu tidak mungkin.  


"Kamu sama Ayah aja ya,  Abang biar jagain Ibu" Abang sudah memutuskan. Keputusan yang sangat baik menurutku. Aku mungkin ngga akan sanggup ikut Ibu. Ibu terlalu depresi dengan pengkhianatan Ayah.  Sedangkan Ayah tidak mungkin aku biarkan sendiri disaat seperti ini. 


"Kalo Ayah nanti nikah lagi gimana,  Bang?" pertanyaan itu muncul begitu saja.  Abang terdiam,  aku yakin Abang juga memikirkan itu sejak tadi. Kami memang masih berumur belasan tapi otak dan hati kami dipaksa dewasa saat ini. "Ya kamu sebagai syaratnya.  Perempuan itu harus mau nerima kamu" Abang meneguk minumannya. Abang tampak tenang walau aku tahu hatinya pasti kacau.  


"Aku mau ikut Abang sama Ibu.." aku menangis. Ternyata  jiwa aku masih terlalu kecil.  Aku tak mampu menanggung beban ini. Aku tak suka dengan keadaan ini.  Aku hanya ingin kami kumpul selayaknya keluarga,  bukan terpisah-pisah. Abang memelukku. Kita sama-sama belum siap dengan keadaan ini.


#30haribercerita #30hbc22 @30haribercerita #30hbc2207

Antri

 


Asinan sayur Mbak Sari selalu ramai pengunjung. Setiap mau beli pasti harus mengantri dulu.  Siang ini entah ada angin apa Mama meminta aku untuk membeli asinan sayur.  "Lagi pengen aja, Kak" kata Mama sambil memberiku uang lima puluh ribuan dan kunci motor.


Sudah setengah jam aku menunggu tapi pesananku belum juga jadi. Aku melihat antrian di dominasi oleh ibu-ibu muda. Mereka membawa anak balita yang sibuk menonton animasi di YouTube. "Belum pasang gofood juga si Mbak Sari" celetuk salah satu ibu muda.  "Iya,  kan kita jadi ngga perlu antri gini ya" jawab ibu muda lainnya.  Mereka semua setuju Mba Sari menaruh asinan sayurnya di aplikasi gofood.  Sayangnya Mbak Sari malas mengurusnya. "Ngga kepegang" jawab Mbak Sari kalau ditanya. 


Antrianku sudah hampir dekat. Posisi ini bisa melihat Mbak Sari dan dua anaknya sibuk membungkus pesanan.  Tak terbayang jika Mbak Sari memasang asinan sayurnya di aplikasi gofood,  antriannya bisa berjam-jam. Memang asinan sayur Mbak Sari ini rasanya unik dan bikin nagih. Meskipun antri panjang,  semua pembelinya selalu sabar antri.  


"Asinannya 3 ya, Mbak" akhirnya pesananku jadi.  Aku mengangguk dan mengambil pesanan ku. Antrian dibelakangku sudah seperti ular namun mereka semua tetap sabar. Budaya antri ini memang baik untuk melatih kesabaran.


#30haribercerita #30hbc22 @30haribercerita #30hbc2206


Saturday, January 8, 2022

Kopi


 

Kopinya sudah habis. Ini kopi pertama yang berhasil aku habiskan tanpa menambahkan gula. Kamu bilang kopi itu memiliki banyak rasa di akhirnya. Kadang rasa mangga, kadang duren, kadang juga bisa asam seperti jeruk. Jelaslah aku tidak percaya. Berulang kali aku minum kopi itu rasanya pahit, aku baru bisa menikmatinya ketika sudah ditambah gula.  


"Rasanya perpaduan antara melon dan strawberry" kataku berusaha memecahkan kesunyian ini. Kamu menatapku sekilas lalu melanjutkan buku bacaanmu. Aku sedikit terkejut dengan skill yang aku punya sekarang. Ternyata kamu benar, kopi itu tidak pahit. Setiap kopi yang dibuat dapat menghasilkan rasa yang berbeda. Tak lagi perlu gula, kopi itu sudah memiliki rasa yang beraneka ragam.  


Aku kembali ke kamu. Kita memang menjadi asing setelah sebulan memutuskan untuk berhenti komunikasi. Tapi aku butuh kamu. Bersama kamu memang rasanya kacau, selalu bertengkar dan berbeda pendapat. Ternyata tanpa kamu, aku hanya manusia membosankan yang tak punya kebahagiaan. 


"Gue udah ngga bisa, Nggi" kamu menutup bukumu dan menghabiskan kopi dihadapanmu. Aku menatap kamu dengan tanda tanya besar. Apakah sebulan bisa secepat itu merubah kamu? "Maaf, gue rasa udah terlambat. Gue pengen dulu lu ngerti gue, ternyata baru sekarang. Gue udah capek, Nggi." kamu menghembuskan nafas panjang. Ini berat kan? Lalu kenapa kamu tetap ambil jalan ini? Bukannya kita bisa perbaiki sama-sama? Semua pertanyaan berkeliaran hebat di kepala. Terlalu sakit sampai aku tak tahu habis mengucapkan apa. 


Belakangan ini aku berusaha selalu sejajar sama kamu, supaya aku tahu maunya kamu seperti apa. Nyatanya, menjadi sejajar-pun aku masih sulit melihat dunia kamu. Sekarang kita terpisah bagai dua manusia yang tidak pernah saling kasih.


#30haribercerita #30hbc22 @30haribercerita #30hbc2205

Friday, January 7, 2022

Amanah

 


Jam 5 sore pikiranku sudah tidak jernih untuk dipakai berpikir. Rasanya seluruh badanku ingin segera dirumah, mandi dan tidur dengan nyenyak. Sayangnya Mr K masih semangat sekali menjabarkan ide-ide briliannya yang menurutku lebih menyeramkan daripada film pengabdi setan. Aku sebagai anak buah yang baik, mencatat semua omongan Mr K tanpa terlewat meski mata terasa sudah tak kuat.


Mr K mengakhiri omong kosongnya tepat jam 9 malam. Aku lega, lelah dan begah semua menjadi satu. Jam 9 mau naik transjakarta juga sudah jarang yang lewat. Aku membuka ponselku untuk memesan ojek online. "Nad, kamu pulang naik apa?" terkejut aku ketika Mr K sudah duduk disampingku. "Order ojek online aja pak, males jalan ke stasiun" aku berbohong. Harusnya Mr K tahu kalau jam segini, naik kendaraan umum untuk perempuan sudah tidak aman. Realitanya Mr K sudah tajir sejak lahir jadi ia sama sekali tidak kenal kendaraan umum.  


"Nad, cancel aja orderannya. Saya anter kamu pulang" terkejutnya aku saat melihat Mr K sudah siap pulang dan bilang mau mengantar aku pulang. Sebenarnya aku malas, sepanjang jalan pasti akan canggung. Namun menolak permintaan Mr K itu sesuatu yang mustahil. Mr K jalan dua langkah di depanku, langkah kakinya lebar-lebar, aku nyaris berlari agar tidak tertinggal. "Kamu itu belum punya pacar ya?" topik yang tidak pernah keluar dari seorang Mr K. "Hahaha Mr ngeledek saya ya? Yaampun sayangnya bener lagi. Jomblo saya, Mr" sekuat tenaga aku berusaha rileks menjawab pertanyaannya. Anehnya Mr K hanya diam dan tidak melanjutkan percakapan. Mungkin dia hanya berusaha sok akrab.  


Mama aku heboh melihat aku diantar Mr K. Aku selalu cerita keburukan Mr K sampai mama hafal semua perilaku bos sok buleku ini. "Ngga kamu suruh masuk itu si Mister?" mama menyikutku. Aku menghembuskan nafas panjang, malas menjawab pertanyaan mama dan aku harus segera bersih-bersih lalu istrahat karena seluruh badanku rasanya remuk.


Project unggulan Mr K akhirnya menang tender. Anehnya Mr K sama sekali tidak terlihat. Semua mata melihat ke arahku. Aku canggung sekali menjadi pusat perhatian disini. "Sungguh di sayangkan Mr K harus meninggalkan kita semua di saat project yang paling dia inginkan akhirnya goals. Kita memang tidak pernah tahu dibalik kerasnya perilaku seseorang ternyata menyimpan sejuta masalah dalam hidupnya. Kita doakan semoga Mr K mendapatkan kedamaian di sana" Ibu Dahlia menyampaikan pesan yang sangat mengejutkan. Semalam Mr K mengantar aku pulang dan pagi ini aku mendengar berita kepergiannya. Mr K bunuh diri, ia tidak lagi sanggup menghadapi drama keluarga besarnya yang tidak berujung. 


"Nadia, Mr K menitipkan project ini ke kamu. Dalam surat wasiatnya ia mempercayai kamu untuk memimpin sampai project ini selesai. Saya harap kamu bisa menjaga amanah ini. Sekian dari saya." Ibu Dahlia menatap aku tajam. Jujur aku bingung harus senang, sedih atau depresi. Semuanya menyatu dalam hati dan pikiranku. Apa maksud semua ini?


#30haribercerita #30hbc22 #scrapbook @30haribercerita #30hbc2204


Wednesday, January 5, 2022

Kamu

 





Sebelum ini, kamu setiap hari sama aku. Bernyanyi bersama, menari bahkan sering berlagak seperti artis papan atas. Sebelum ini,  kita hangat dan semua orang pasti tahu kalau kamu itu milikku. 

Sekarang kamu sudah disana.  Di layar televisi yang aku tonton setiap malam senin.  Kamu bernyanyi dengan baik, sangat baik.  Bukan hanya penonton yang suka sama kamu, juri yang duduk di depan kamu juga selalu memuji kamu. Kamu pasti bahagia sekali. Ini mimpi kamu. Akhirnya kamu menemukan titik pencapaian setelah berulang kali kita jatuh. 

Aku cukup di sini. Aku suka melihat kamu di layar itu. Kamu tetap hangat walau jauh. Kamu tetap seseorang yang aku miliki, kan? Aku masih hafal wangi parfum kamu.  Aku masih simpan semua tulisan "lirik gagal" kamu. Walau aku mulai pesimis, apakah kamu masih ingat?

"Alvin itu dek? Masuk final dia?" suara Mas Danar menyadarkan aku. Aku hanya mengangguk walau gemuruh di dalam diri belum hilang. "Gue bilang juga apa,  ngga usah komitmen sama musisi. Ujung-ujungnya lu ditinggal kan?" ucapan abangku memang benar. Kamu sudah meninggalkan aku. Kamu menyusun masa depanmu sendiri. 

Sekarang aku juga sendiri. Tak tahu harus memulai apa dan dari mana. Tapi apakah salah kalau aku masih mau disini?  Masih mau melihat kamu bernyanyi.  Masih mau menjaga memori kita. Aku tahu sekarang kamu sudah jauh diatas. Aku hanya ingin setia. Setidaknya hanya itu yang bisa aku banggakan dihadapan kamu nanti.  ☺️

#30haribercerita #30hbc22 #scrapbook @30haribercerita #30hbc2203



Friday, August 13, 2021

Untuk Apa


Malam ini aku mempunyai janji pada seorang lelaki.  Dia sudah enam bulan tidak terdengar beritanya tiba-tiba saja mengajakku berjumpa.  Apa dia rindu? Sayangnya rindu itu tidak ada dalam hatiku lagi. Setuju bertemu dengan dia malam ini hanyalah untuk berhubungan baik. 


Pukul tujuh lewat lima belas menit aku sampai di sebuah tempat makan ala sunda.  Aku memang orang sunda tapi makan ditempat seperti ini sebenarnya bisa dihitung jari. Lelaki itu sudah duduk dengan kemeja hitamnya yang selalu cocok.  "Maaf telat" kataku saat sampai di depan mejanya.  Ia menatapku dari atas kebawah.  Entah apa yang salah,  rasanya aku tidak memakai baju ondel-ondel sampai harus dilihat seperti itu.  "Andin? Ceria banget sekarang kamu" suaranya terdengar meledek.  Waktu bersama dia memang aku harus menggunakan pakaian serba gelap.  Dia tidak suka warna warni cerah. Aku duduk dan memesan makan karena perutku sudah berteriak minta jatah.  


"Kamu kenapa ngga pernah kontek aku lagi?" Dia kembali bertanya.  Aku diam tak tahu harus jawab apa.  "Kamu beneran udah lupain aku ya?" Dia tanya lagi. Kali ini aku menatap dia tajam. "Emang aku harus gimana,  Andre?" kataku ketus.  Dia tersenyum tipis.  Beberapa kali ia menghembuskan nafas panjang.  Aku masih menatapnya menunggu jawaban.  


"Aku pikir kamu bakal nungguin aku" dia menunduk.  Aku terkejut dengan ucapan dia.  Apa aku tidak salah dengar?  Nunggu?  Nunggu apa?  Dia sendiri sudah beberapa kali ganti pacar. "Kamu kan tahu aku ngga pernah serius kalo pacaran sama orang" Dia seperti dapat membaca pikiranku.  Aku diam dan mencoba makan dengan tenang.  Aku pikir bertemu dia dapat menyelesaikan sisa kenangan, ternyata aku dibuat rumit begini. 


"Maaf Andre, aku mana tau kamu itu serius atau ngga pacaran sama orang. Pas sama aku juga kamu bilangnya serius, tapi ujungnya aku diputusin juga" aku mencoba menjelaskan. Kisah rumit masa lalu jadi dihidangkan lagi disini. "Kamu kan tahu posisi aku. Aku ngga punya apa-apa. Aku belum bisa penuhin semua mau kamu. Aku miskin sedangkan kamu terlalu bergelimang harta" dia mulai lagi membahas masa lalu.  "Apa aku pernah minta materi sama kamu?  Aku cuma minta kamu serius hidupnya.  Kalo hubungan serius itu ujungnya nikah,  yang aku lihat hidup kamu penuh sama hobi dan temen-temen kamu yang belum mikirin masa depan.  Lagian buat apa sih kita bahas ini?  Kita kan udah selesai" kali ini aku sedikit emosi. Beberapa menit kita hanya saling diam dalam pikiran masing-masing.  


"Jujur aku mau kamu nunggu aku.  Nunggu aku sampai mampu seriusin kamu lagi" kali ini kata-kata dia sudah tidak masuk diakal.  Aku sudah harus pergi dari sini.  Meja ini bukan untuk hubungan baik,  meja ini seperti kaca spion yang terus menatap masa lalu.  "Maaf Andre,  aku pamit. Aku rasa ini sudah tidak perlu dibahas" aku meninggalkan Andre yang masih sibuk berputar di kenangan masa lalu.  



Tamat 

Wednesday, April 14, 2021

Istri


Malam minggu kali ini rumah ramai sekali.  Teman kantor Bang Bobi main ke rumah untuk acara makan-makan.  Aku ikut sibuk menyiapkan bahan-bahan masakan mereka.  Hampir semuanya laki-laki,  dari sepuluh orang hanya ada 2 perempuan.  Berhubung aku adik yang baik jadi aku dengan ikhlas membantu Bang Bobi.  


"Ayamnya udah diungkep, Bang. Kak Indri tadi sih lagi siapin bumbu buat bakar ayamnya" kataku menjelaskan saat Bang Bobi selesai menyiapkan alat-alat untuk bakar ayam di Teras.  Bang Bobi hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasanku.  Papa dan Mama lagi ke rumah Eyang jadilah aku sok akrab dan sok kenal saja dengan semua teman-teman Bang Bobi.  "Ayamnya angkut aja yuk biar langsung dibakar" Kak Indri memberi kode pada Bang Bobi untuk mengangkut panci berisi ayam yang siap dibakar.  


Aku yang merasa sudah tidak punya tugas segera beranjak menuju kamar. Sayangnya salah satu teman Bang Bobi menarikku ke dapur lagi.  "Lu adeknya Bobi ye? Bantuin gue bikin minum" kata lelaki dengan kaos hitam.   seperti anak ayam aku hanya menurut saja tanpa protes. 

Dia; Lu dirumah berdua Bobi aja? 

Aku: Sama Papa Mama,  tapi lagi pada ke rumah Eyang

Dia: Siapa nama lu? 

Aku: Bella, Bang..

Dia: Gue Rico, salam kenal ya. Canggung banget lu kayak kanebo kering 

Aku: hehe


Entah kenapa aku lemah dengan lelaki berbaju hitam.  Sepertinya waktu kecil aku terlalu sering menonton Satria Baja Hitam.  Eh, nyambung ngga ya?  Hehe. Bang Rico ini sepertinya baik.  Dia juga mau banyak omong dan berusaha akrab denganku.  Padahal ini kali pertama kita ketemu.  Malam minggu aku jadi lumayan berwarna, sebelumnya aku pikir akan sangat melelahkan jadi ikut repot dengan acara teman-temannya Bang Bobi tapi ternyata aku salah.  Aku akan berterima kasih pada Bang Bobi.  


Jam 11 malam acara selesai dan satu persatu teman Bang Bobi pulang.  Sebetulnya aku sedih juga acara "malam mingguan" aku harus berakhir. Sayangnya Bang Bobi sudah janji sama Papa Mama kalau acaranya tidak lewat dari tengah malam.  "Thanks ya Bell udah bantuin Abang" Bang Bobi menyenderkan badannya di sofa panjang.  Wajahnya tampak lelah namun lega. Jarang-jarang dia membawa teman ke rumah.  "Sama-sama Bang.  Eh,  tapi comblangin gue sama temen lu dong.  Kayaknya oke tuh dia" kataku sambil meluruskan kaki.  "Temen yang mana nih?" Bang Bobi tampak sangat terkejut.  Menurut dia teman-teman dia tidak ada yang oke.  "Namanya Rico, tadi gue sempet kenalan. Hihi" jawabku malu-malu. Bang Bobi langsung berdiri dan memasang muka shock


"GILA LU DEK! RICO UDAH PUNYA ISTRI" 


Thursday, April 1, 2021

Tikus


Hai,  namaku Bella.  Aku anak kedua.  Abangku namanya Bobi.  Dia anak yang mirip sekali dengan Papa. Namun anehnya setiap hari mereka selalu ribut seperti perempuan. Mama seorang istri yang sabar dan alim hanya saja agak lambat dalam menerima informasi. 


Beberapa minggu ini rumahku kehadiran banyak tamu.  Bukan tamu yang diharapkan pada umumnya.  Tamu ini menjijikan dan suka membuat rumah menjadi berantakan. Siapa lagi kalau bukan,  Tikus!  Papa dan Bang Bobi setiap malam berpatroli untuk mengusir tamu-tamu ini.  Namun memang mereka berdua itu lebih banyak bicara daripada beraksi, jadilah setiap malam bukannya berkurang tamunya malah semakin bertambah.  


Senin kemarin Papa mendapat racun dari sahabatnya.  Menurut sahabatnya, racun ini sangatlah ampuh.  Bahkan ia menjamin dalam dua malam pasti rumah akan terbebas dari tamu menjijikan itu.  Papa dan Bang Bobi bahagia sekali,  seperti mendapat hadiah ulang tahun yang mahal harganya.  Mereka menaruh racun-racun itu disetiap sudut ruangan.  Mereka sangat yakin usahanya kali ini akan berhasil. 


Setelah dua hari akhirnya rumah kami terbebas dari tamu menjijikan itu.  Tapi anehnya, di belakang lemari masih suka ada suara-suara kecil. Mama sudah baca doa-doa penghilang jin jahat tapi suaranya semakin terdengar. Papa dan Bang Bobi mulai melakukan aksinya lagi. Mereka menggeser lemari dan mendapati satu tikus yang besarnya hampir sama dengan kucing. Bukannya ditangkap atau dipukul,  Papa dan Bang Bobi malah lari kocar-kacir dikejar tikus babon.  Aku yang asik menonton drama korea jadi terganggu dengan teriakan mereka yang melebihi suara bencong taman lawang. Setelah sepuluh menit mereka lari-larian akhirnya Bang Bobi mengambil sapu ijuk dan memukul tikus babon. Sayangnya pukulan Bang Bobi hampir mirip dengan ayunan tangan para penari kipas.  Bukannya mati,  tikus babon malah semakin kencang berlari.  


Aku teralihkan dari menonton drama korea jadi menonton drama tom and jerry live! Posisi duduk lesehan yang nyaman membuatku enggan beranjak walau sepasang anak dan bapak sedang sibuk mengejar tikus babon.  Bagai disambar petir tiba-tiba tikus babon itu berlari menuju kearah aku. Seketika aku ingin menangis karena tikus babon menabrak aku tepat pada kemaluanku.  Walau aku pakai celana double tetap saja terasa sekali sentuhan tikus babon itu. Aku merasa kesucianku telah terambil.  Tikus babon yang tidak punya perasaan itu langsung kabur keluar rumah dan meninggalkan aku yang tersakiti.  


Papa,  Mama dan Bang Bobi bersorak sorai.  Mereka sangat bahagia dengan kepergian Tikus Babon keluar rumah. Sedangkan aku terpuruk menahan tangis.  Keluargaku bahagia atas hilangnya kesucianku. "Dek, mata kamu sampai berkaca-kaca.  Ngga sangka ya Bang Bobi berguna juga di rumah ini?" Mama memelukku erat dan akhirnya air mata aku mengalir sederas-derasnya.  



TAMAT


Tuesday, August 25, 2020

Percaya

 ⁣

"Bell, kemarin Andre ke Bandung sama Ajeng" Kania memberi aku sebuah informasi yang tidak ingin aku dengar.⁣

"Katanya mereka mau tunangan" Kania menambahkan informasi walaupun aku tidak merespon. ⁣

"Gue ke Manggarai dulu ya, mau anter pesenan" Aku melesat pergi meninggalkan Kania yang masih asik mengaduk adonan bolu.⁣

*⁣

"Bell, aku ke Bandung buat urusan bisnis. Aku sama Ajeng ngga ada hubungan apa-apa. Kamu harus percaya sama aku" di kereta menuju Manggarai aku bertemu Andre. Aku merasa aneh bisa bertemu dia di dalam kereta. Dia tidak biasanya menggunakan alat transportasi umum. ⁣

*⁣

"Bell, mobil Andre kecelakaan. Andre meninggal satu jam yang lalu. Perjalanan dari Bandung menuju Jakarta" suara Kania terdengar sangat nyaring saat aku sampai rumah. Aku tak mampu menjawab apa-apa. Terbayang wajah Andre yang pucat saat di kereta. ⁣

***⁣

"Andre, aku percaya sama kamu" kataku dengan derai air mata, namun tanganku terus mengaduk adonan kue.⁣

"Bell, istirahatlah. Kuenya udah cukup." Kania menggenggam tanganku yang penuh dengan tepung.⁣

"Andre, aku percaya sama kamu" ucapku lagi. Mengenangmu tak akan pernah ada kata istirahat, walau ini sudah tahun ketiga semejak kepergianmu. ⁣

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC2030 #fiksi #30hbc20istirahat

Jatuh

 ⁣

"Kamu ngga apa-apa kan, Ra?" Liem menggenggam tanganku dan membantuku berdiri. ⁣

"Iya ngga apa-apa kok" jawabku sambil membersihkan bajuku yang tertempel banyak pasir.⁣

"Tumben keliatan lagi di kampus?" Liem merapikan buku dan tas aku yang masih berantakan.⁣

"Pengen ketemu dosen, sih" jawabku ragu.⁣

"Liem, peralatan udah siap tinggal minta tanda tangan Bu Lili aja" tiba-tiba Nabila datang membawa surat-surat dan di berikan kepada Liem.⁣

"Ya udah gue aja yang ke Bu Lili. Lu temenin Rara ya abis jatuh tadi dia" Liem segera meninggalkan aku dan Nabila tanpa mengucap apa-apa lagi padaku.⁣

"Jatuh kenapa lu, Ra? Beli minum yuk, biar lu ngga jatuh lagi" Nabila menggandeng tanganku. Kita berdua berjalan menuju kantin. ⁣

"Gue jatuh cinta, tapi beda keyakinan" jawabku dalam hati. ⁣

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC2029 #fiksi

Ani

 ⁣

Budi membacakan anaknya sebuah cerita rahasia yang belum pernah ia ungkap. Sore hari di saat libur seperti ini memang waktu yang tepat. Anaknya duduk dan mendengarkan dengan seksama. Sembari mendengarkan, anak Budi mengambil minuman dan juga memakan kerupuk udang yang ada di dalam kaleng khong guan. Budi mulai menyebut nama perempuan yang selama ini hanya ia simpan dalam hatinya. Perempuan itu adalah Ani.⁣

Di Korea, Ani sedang sibuk melayani pembeli. Ia bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Merantau dan hidup sendiri membuatnya mandiri dan kuat. Hampir tak pernah dalam hidupnya ia mengeluh. Ani hanya yakin bahwa suatu saat ia akan sukses. ⁣

"Ani adalah ibu kamu, ibu kamu belum meninggal"⁣

Budi membongkar semua rahasia yang selama ini ia jaga rapat-rapat. Ia tak ingin mengganggu kehidupan Ani yang sedang mengejar cita-citanya. Budi juga tak ingin anaknya menunggu Ibunya yang entah kapan akan pulang. Mereka hidup berputar pada roda kehidupan masing-masing tanpa saling mengganggu. ⁣

Hari itu tepat 5 tahun setelah kepergian Ani ke Korea. Budi mulai merasa rindu dan ingin melihat wajahnya. Ia juga ingin memperlihatkan Ani pada anaknya. Teringat akun skype milik Ani, namun sayang kuota internetnya belum top up.⁣

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC2026 #fiksi #30HBC20mengarang

Sudah selesai

 ⁣

Melihat namamu di list view instagram story-ku membuatku terheran-heran. Bukankah kamu sudah lama tidak follow aku? Lantas mengapa kamu masih kepo dengan kehidupanku? Penasaran aku pun segera membuka profilmu, indahnya pernikahanmu dan bahagianya kamu dengan dia tergambar jelas di feed instagram milikmu. ⁣

"Apa kabar, Tari?"⁣

Beraninya kamu mengirim pesan padaku. Kisah kita sudah selesai bukan? Walau mungkin dalam hatiku kisah kita tak akan pernah selesai. Lantas bagaimana istrimu yang sedang hamil itu? Sebaiknya aku membalas pesanmu dengan formal saja sebagai teman lama.⁣

"Aku kangen sama kamu"⁣

Berulang kali aku membaca pesanmu. Seperti mimpi yang datang dari masa lalu. Nyatanya pesan itu benar-benar datang dari dirimu. Lalu apa artinya semua kebahagiaan yang kamu tampilkan dalam feed instagrammu? Seharusnya pesan seperti itu tidak pernah kamu kirim kepada perempuan manapun selain istrimu. ⁣

"Sabtu ada agenda ngga? Pengen ketemu"⁣

Maaf aku tak bisa membalas lagi semua pesanmu. Pesanmu mungkin juga menggambarkan apa yang aku rasakan. Seharusnya kamu sadar statusmu saat ini sudah berbeda. Hubungan kita sudah bukan seperti dulu lagi. Walau, semenjak kamu pergi, namamu tak pernah pergi dari ingatanku.⁣

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC2025 #fiksi

Rejeki

 ⁣

-Rejeki itu dari Allah, bukan dari pembeli-⁣

Menjadi pedagang online seperti saya banyak sekali suka dan duka yang di alami. Naik dan turun pemasukan sudah pasti di hadapi dengan sabar dan ikhlas. ⁣

"Mba, topi ini harganya berapa ya?"⁣

Chat pembeli yang selalu mengundang senyum di bibirku. Setiap produk yang aku posting di instagram @cuilopi sudah jelas harganya, namun masih saja ada yang bertanya. Marah? Tentu tidak, aku jawab mereka dengan sabar.⁣

"Kirim ke Bekasi ongkirnya berapa?"⁣

Saat ada yang bertanya seperti ini otomatis aku harus melihat daftar ongkir. Setelah di jawab pun mereka akan bertanya "Ngga bisa gratis ongkir ka?" Ya kalau saya yang punya jasa pengiriman mungkin saya bisa mengusahakannya 🤗⁣

"Mahal banget, diskon dong!"⁣

Kalimat ini lebih sering aku dapat justru dari pembeli yang aku kenal. Kadang aku bingung harus menjawab apa, karena kalau di diskon maka aku tak dapat untung 😂 Menjelaskan kepada orang yang aku kenal justru lebih sulit daripada kepada orang yang tidak aku kenal.⁣

"Bagaimana kak? Jadi order?"⁣

Setelah lama di beri pertanyaan akhirnya aku yang bertanya. Memperjelas status ini penting, karena aku tidak suka pertanyaan-pertanyaan tadi tidak ada ujungnya.⁣

"Maaf ka, nanti dulu"⁣

Jawaban terakhir dari pembeli. Aku hanya tersenyum dan saatnya mengingat kalimat saktiku⁣

-Rejeki itu dari Allah, bukan dari pembeli-⁣

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC2024 #30HBC20mantra

Pernah singgah

 ⁣

"Besok di coffee shop jam 2 ya"⁣

Chat terakhir kamu membuat aku banyak berpikir. Aku memang tahu kamu semasa kuliah dulu, namun kita tidak pernah dekat. Jangankan dekat, berbicara berdua saja bisa dihitung dengan jari selama kuliah. Besok akan jadi hari seperti apa?⁣

"Jadi gimana pertanyaan gue semalem?"⁣

Kalimat itu akhirnya keluar. Semalam sebelum memutuskan bertemu, kamu memang memberiku sebuah pertanyaan mengejutkan. Kamu mengajak aku untuk menikah, aku tidak bisa menjawab karena aku tidak banyak tahu tentang kamu. Pertemuan kali ini pun aku belum bisa menganalisa kamu orang yang seperti apa.⁣

"Kayaknya kita harus banyak kenal dulu deh"⁣

Jujur aku takut mengatakan ini padamu. Namun aku memang belum tahu secocok apa kita saat bersama. Aku tidak mau perbedaan itu nampak setelah menikah. Lebih baik kita tahu satu sama lain sekarang agar kedepannya tidak terjadi kekecewaan. ⁣

"Dar, kayaknya kita ngga cocok ya"⁣

Sudah lima bulan kita mencoba menjalani hari-hari bersama. Banyak sekali prinsip dan keinginan kita yang bertolak belakang. Kita selalu mencoba memahami satu sama lain namun ternyata sulit sekali. Meskipun rasa sayang itu ada, ternyata akhirnya pun tak bisa bersama. ⁣

"Tetep jadi temen aku ya, Dar"⁣

Klasiknya kata-katamu hanya mampu aku setujui di bibir. Aku tak dapat merespon banyak. Nyatanya kedepan kita tak akan sama lagi. Kita akan menjadi dua orang yang berbeda. Terima kasih untuk kamu yang pernah singgah 💝⁣

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC2023 #fiksi

Menunggu kereta

 ⁣

"Tujuan lebak bulus berapa lama lagi ya?" ⁣

Seorang wanita berambut panjang bertanya padaku. Sebagai petugas keamanan aku juga harus tahu informasi mengenai jam keberangkatan kereta. Tujuan lebak bulus masih sekitar 10 menit lagi dan ia memilih menunggu di sebelahku. Kami berbincang berbagai hal, aku salut dia tidak memandang aku rendah dan dia juga sama sekali tidak menyentuh ponselnya. ⁣

"Eh mas, saya nunggu sini lagi yak"⁣

Dia tersenyum manis. Sungguh rutinitas yang menyenangkan. Setiap sore aku menunggu dia datang dan menemaniku berjaga sambil menanti keretanya datang. Saat kereta dia datang adalah saat yang berat, karena aku harus menatap punggungnya menjauh dan tidak terlihat lagi. ⁣

"Yah.. Itu barusan kereta saya ya mas? Duh keduluan lagi.."⁣

Bahunya naik turun karena nafasnya yang tak teratur. Dia terlihat sangat lelah berlari mengejar keretanya namun gagal. Aku hanya mampu memberi senyum padanya. Kejadian seperti ini biasa terjadi pada orang lain, namun ketika dia yang mengalaminya aku malah senang. Artinya waktu dia menemaniku menjadi lebih lama. Wajah kesal dan lelahnya terlihat sangat lucu. ⁣

"Kalo kerja sampai malam, istrinya ngga khawatir mas?"⁣

Kalimat tanya darinya membuatku teringat padamu. Kamu yang sudah sebulan meninggalkan rumah demi mencari rejeki untuk biaya berobat ayahmu. Apa kabarmu? Aku malah mencari hiburan lain di tempat kerjaku. Maaf sayang, aku khilaf. ⁣

"Istri saya sudah sebulan ngga pulang, kerja di Arab"⁣

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC2022 #fiksi⁣

Cookies beruang cokelat

 ⁣

Seorang kawan menawariku sebuah dagangan, cookies coklat berbentuk beruang lucu. Hatiku yang sedang jatuh cinta langsung teringat tentang kamu. Dua beruang aku beli, satu untukmu dan satu untukku. Kita akan memakannya bersama malam minggu nanti. ⁣

"Malam ini ke rumah aku atau jalan?"⁣

Menanti jawabanmu di ujung telepon. Entah mengapa perasaanku tidak nyaman saat suaramu terdengar lain. Biasanya kamu bersemangat menerima telepon dariku. Berusaha aku menepis semua pikiran burukku padamu. Kamu jawab bahwa malam ini kamu akan ke rumahku, jalanan malam minggu biasanya macet dan hanya buang-buang waktu. Aku-pun setuju. ⁣

Jam 7 malam kamu datang dengan jaket jeans kesayanganmu. Wajahmu tampak segar walau tetap terlihat murung, sama dengan suaramu tadi siang. Aku mengajakmu duduk di teras dan memberimu teh manis hangat. Senyummu selalu menjadi senyum termanis. Teh manis buatanku sampai malu, karena ia kalah manis oleh senyummu. ⁣

"Kita udahan aja ya, Frey"⁣

Satu kalimat darimu membuatku tak mampu bernafas. Aku sedang berhalusinasi atau mabuk cinta? Suaramu terdengar jelas namun tertolak oleh seluruh organ di tubuhku. ⁣

"Kenapa?"⁣

Walau aku tidak percaya namun itulah kata tanya yang keluar dari mulutku. Aku butuh alasan, walau aku lebih butuh tidak pernah mendengar kalimat tadi. Deru nafasku tidak dapat aku kendalikan, sebentar lagi air mata akan datang dengan ramainya. ⁣

"Jangan nangis ya"⁣

Kamu berlalu begitu saja. Kamu pergi tanpa meninggalkan alasan yang jelas. Punggungmu menjauh dan aku baru sadar sejak tadi kamu tidak membuka jaket jeansmu. Aku baru sadar bahkan kita belum sempat menikmati cookies beruang berdua. Akhirnya aku merasakan di tinggal ketika hatiku sedang full merasakan sayang sama kamu. ⁣

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC2020 #fiksi

Kenangan

Jalanan ini dulu sering aku lewati. Bukan, bukan hanya lewat. Sering aku singgah di rumah berwarna biru muda itu. Rumah itu berisikan kamu, adikmu dan ibumu. Kalian hanya bertiga namun setiap kali masuk kerumah itu rasanya sangat hangat. Ternyata aku bukan hanya mencintaimu, namun juga mencintai keluargamu.⁣

Sejak dua tahun lalu rumahmu tak bisa aku singgahi. Beberapa kali aku hanya bisa lewat dan menatap rumah itu. Bolehkan aku mampir? Namun untuk apa? Hatimu sudah bukan berisi namaku. Kehangatan keluargamu juga sudah tidak jadi milikku. ⁣

Hari ini untuk yang kesekian kalinya aku lewat rumahmu. Aku melihat dirimu dan kawan-kawanmu di teras. Gitar kesayanganmu kau mainkan dengan baik dan kalian berdendang ria. Sekilas saja aku melihat senyummu namun kehangatan itu kurasakan lagi walau sedikit. Ternyata kamu baik-baik saja. ⁣

Kenangan, aku hanya ingin mengenangmu. Tidak, aku tidak akan mengusikmu lagi. Jalan hidup kita sudah berbeda. Aku hanya berharap kamu dan keluargamu bahagia selalu. ⁣

"Eh, mau kemana?"⁣

"Ke rumah sodara, duluan yaa" 😊⁣

@30haribercerita @atirecrebirah03 #30haribercerita #30HBC2017 #fiksi⁣

Bangga

 ⁣

"Skripsi kamu sudah sampai mana?"⁣

Ayah mengajakku ngobrol sore setelah beliau selesai merapikan kebun. Aku menatap guratan-guratan di wajah Ayah menandakan usianya yang sudah menginjak angka 60. Aku kemudian memandang kebun yang sudah cantik dan rapi. Aku mencari jawaban yang tepat untuk Ayah namun sulit sekali.⁣

"Kuliah jangan lama-lama, kerjaan kamu di tinggal dulu saja"⁣

Jujur membagi waktu antara kuliah dan kerja sangat sulit. Aku tidak bisa fokus pada skripsiku karena senin sampai jumat aku sibuk kerja. Untuk melepas pekerjaan ini juga sangat sulit, karena aku sangat suka dan menikmati. Andaikan saja skripsi tidak wajib, pasti aku sudah lulus dan tenang. ⁣

"Oiya tetangga sebelah seangkatan sama kamu kan? Kayaknya sudah tahun lalu dia wisuda"⁣

Ayah mulai lagi membandingkan aku dengan orang lain. Rasanya kesal sekali. Lebih baik aku di nasehati seharian daripada aku harus mendengar pembanding-pembandingku yang jelas berbeda dengan aku. Tolonglah Ayah, jangan lakukan itu terus. Anakmu bisa depresi dan bunuh diri. ⁣

"Ayah bangga ngga sama aku?"⁣

Suaraku mendadak serak. Gejolak dalam diri tidak dapat aku tutupi. Ingin aku curahkan semua perasaanku namun kata-kata itu tidak dapat keluar. Aku menunduk mencoba berdamai dengan segala rasa. Aku mencoba mengerti bahwa Ayah hanya ingin yang terbaik untuk anaknya. Aku pun hanya ingin bisa menjadi kebanggaan Ayah. Badanku kemudian terasa hangat. Tubuh Ayah memelukku dengan nyaman. Ayah mengusap rambutku dan membisikikkan kata di tingaku.⁣

"Ayah selalu bangga sama kamu"⁣

@30haribercerita @atirecrebirah03 #30haribercerita #30HBC2016 #fiksi

Dimana nyali-ku?

 ⁣

"Kopi lu pait, nyet"⁣

"Liat senyum gue dong biar jadi manis"⁣

"Tambah pait, gila!"⁣

Minum kopi saat matahari hampir terbenam bersamamu menjadi candu baru bagiku. Senyum dan sinar matamu tak pernah ku temukan di wajah yang lain. Pahitnya kopi yang baru saja kau coba, selalu terasa manis karena aku meminumnya bersamamu. Jika aku jujur, pasti kau tidak akan percaya.⁣

"Youfri jadi pengisi acara pensi sekolah lu? Gilaaa, gue mau kenalan dong!"⁣

Sinar matamu semakin terang setiap kali membicarakan salah satu penyanyi yang sedang naik daun. Cemburu rasanya terlalu naif buatku. Sampai sekarang status kita memang hanya tetangga yang kebetulan seumur dan sehobi. Walau jauh di lubuk hatiku inginkan kau lebih. ⁣

"Gue punya kontak dia loh.."⁣

Aku selalu senang menggodamu. Wajah terkejutmu sangat menggemaskan. Kau memaksa aku memberikan kontak yang sejujurnya aku tidak punya. Banyak sekali usahamu untuk mendapatkan kontak itu. Traktir kopi, belikan pulsa sampai mau membelikan sepatu yang sedang aku incar. Kalau boleh barter, aku mau minta hatimu untuk imbalannya. ⁣

"Gue punya akun instagramnya sama twitternya, gue kira lu juga punya"⁣

"Eh monyet! Gue kira lu punya nomer whatsappnya!!"⁣

Suara tawaku menggelegar sampai semua pengunjung kedai menengok. Tak kuasa aku menahan geli di perutku. Wajahmu merah kesal dan memukulku berkali-kali. Aku mengelak dan menggenggam pergelangan tanganmu dengan kuat. Pergelangan tanganmu yang lembut mengingatkanku pada sesuatu. Gelang berwarna hijau lumut yang sudah lama aku simpan. Berbulan-bulan aku mengumpulkan nyali untuk memberikannya padamu. Nyatanya setiap bertemu denganmu aku lupa membawa nyaliku. ⁣

@30haribercerita @atirecrebirah03 #30haribercerita #30HBC2015 #fiksi ⁣